Jumat, 29 Mei 2015

Dilema Kebiasaan Menggosok Gigi

Kebiasaan Langsung Menggosok Gigi Setelah Bangun Tidur dan Setelah Makan Salah Kaprah

---Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi---

          Potongan lagu anak-anak tersebut tampaknya harus segera dimodifikasi. Pasalnya ada informasi yang kurang tepat disampaikan di dalam lirik tersebut.
          Sebagian besar orang Indonesia disinyalir kurang peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut. Sementara, ada juga yang sudah memiliki kesadaran namun sayangnya belum menerapkan perawatan yang tepat. Salah satu contohnya kebiasaan menyikat gigi setelah bangun tidur seperti diajarkan lagu diatas.
          Beberapa kebiasaan setelah bangun tidur, seperti menyikat gigi diyakini dapat mempengaruhi kesehatan. Namun, kebanyakan orang sebelum menyikat gigi memilih minum air putih terlebih dahulu karena khawatir terkena dampak buruk dari pasta gigi.
Menurut Nutrition and Health Education Executive Nutrifood, Machamad Aldis Rusliadi SKM, ada beberapa pasta gigi yang mengandung fluoride, yaitu zat yang kalau terlalu banyak dikonsumsi di dalam tubuh bisa menjadi racun. Aldis menjelaskan bahwa memang jika setelah bangun tidur kita menyikat gigi terlebih dahulu baru minum air putih bisa menimbulkan dampak kurang baik bagi kesehatan, karena bisa saja pasta gigi mengandung fluoride. Tetapi, Aldis mengatakan bahwa kandungan fluoride dalam pasta gigi tidak banyak sehingga tidak akan menyebabkan seseorang hingga keracunan.
“Kalau seseorang sikat gigi dulu kemudian baru minum air putih, maka bisa terjadi penumpukan fluoride yang bisa menyebabkan keracunan, tetapi fluoride yang menyebabkan keracunan itu harus 10 milligram per unit yang masuk ke dalam tubuh, tetapi kita setiap sikat gigi hanya pakai secuil pasta gigi jadi kemungkinan untuk keracunan itu sangat kecil, ujarnya di Atrium Kota Kasablanca, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu 1 Oktober 2014.
Sementara, untuk diketahui bahwa fluoride adalah elemen halogen seperti halnya iodin dan klorida. Selain menjadi bahan tambahan di pasta gigi, fluoride biasanya juga terdapat dalam obat kumur sebagai pencegah kerusakan gigi.
          Prof. Dr. Drg. Melanie Sadono Djamil, MBiomed FICD Lab BioCORE dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti mengatakan, kesalahan yang paling banyak dilakukan keluarga Indonesia adalah menyikat gigi setelah bangun tidur. “Perlu disosialisasikan bahwa sikat gigi yang baik dan benar itu setelah sarapan pagi dan malam hari sebelum tidur,” tambahnya.
          Selain itu, sebagian orang juga lebih rajin menyikat gigi lebih dari dua kali sehari, misalnya setiap setelah makan. Namun ternyata, langsung menyikat gigi atau berkumur setelah makan juga perlu di hindari.
          Sebenarnya gigi kita selalu diselaputi oleh semacam selaput tipis akibat rongga mulut tidak pernah kering dari liur. Selaput ini menjadi media subur bagi tumbuhnya berbagai kuman. Ketika pertama kali Antonie dan Leewenhoek melaporkan penelitiannya tentang selaput ini pada abad ke-17, mereka menyebutnya sebagai material alba, yang dilukiskan sebagai selaput tipis mengandung berbagai bakteri berjumlah besar. Selaput tersebut akan menjadi plak (plaque), bila koloni kumannya sudah mencapai jumlah tertentu. Plak sangat tipis dan tidak terlihat dengan mata telanjang. Dibutuhkan waktu berabad-abad sampai dapat dibuktikan adanya hubungan yang jelas antara material alba dengan karies gigi.
          Setelah makan, sisa makanan, khususnya makanan karbohidrat, akan mengalami fermentasi terhadap gula (glukosa) makanan. Hasilnya berupa senyawa bersifat asam dan membuat lingkungan sekitar gigi bersuasana asam. Dalam beberapa menit derajat keasaman tadi akan meningkat atau pH-nya turun. Bila berlanjut, penurunan nilai pH akan sampai ke pH kritis, yaitu nilai pH yang dapat memicu dekalsifikasi (hilangnya garam kalsium) pada email gigi.
          Bila zat gula pada pada plak habis difermentasi, sejumlah bakteri lain, diantaranya veillonella alcalescens, akan merusak kembali senyawa asam hasil fermentasi tersebut. Dengan demikian setelah beberapa waktu, pH plak akan beragsur naik kembali mencapai pH normal. Demikianlah yang selalu terjadi setelah kita makan, terutama makan makanan yang mengandung gula.
          Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa pH akan kembali normal setelah 20-30 menit setelah kita makan makanan karbohidrat (mengandung gula) merupakan saat-saat sangat rentan untuk terjadinya kerusakan gigi. Penyikatan gigi pada derajat keasaman dalam mulut masih pada tingkat kritis ini akan menambah kerusakan permukaan gigi. Jadi, jangan menyikat gigi segera setelah makan, tunggulah sampai lewat masa genting sesudah makan.
          Seperti dikutip dari ABC Australia, Dr. Peter Alldritt, direktur Komite Kesehatan Mulut Australia Dental Association mengatakan, jika kita lagsung menyikat gigi setelah mengkonsumsi makanan dan minuman acidic (asam) minuman bergula, wine dan lain-lain, enamel yang sebelumnya sudah menjadi lunak tersebut akan bertambah rusak. Akibatnya gigi lebih cepat kropos, berlubang atau terasa ngilu. Peter menyarankan untuk menunggu setidaknya 30 menit setelah makan jika ingin menyikat gigi. Dalam 30 menit, mulut akan memiliki waktu untuk memproduksi air liur yang akan menetralisir keasaman tersebut.
          Tujuan menyikat gigi adalah membersihkan mulut dari sisa makanan agar fermentasi sisa makanan tidak berlangsung terlalu lama, sehingga kerusakan gigi dapat dihindari. Bila kita menyikat gigi dengan benar. Permukaan gigi juga bersih dari plak.Tetapi sekali lagi, plak akan senantiasa terbentuk dari waktu ke waktu. Memang tak ada salahnya menyikat gigi ketika mandi pagi atau sore hari. Namun, manfaatnya lebih untuk memelihara kesegaran mulut. Manfaatnya dalam pemeliharaan gigi tidaklah besar. Masalahnya, sekarang kita juga tidak tau apakah plak yang ada dalam gigi itu benar-benar hilang setelah kita menggosok gigi atau tidak.
          Prof. Dr. Dag. Melanie Sadono Djamil memaparkan ketika berkumur kita juga perlu menggunakan obat kumur (mouthwash), karena larutan kumur dapat melepaskan sisa-sisa kotoran yang tidak terjangkau sikat gigi termasuk diantaranya biofilm (lapisan tipis sekumpulan bakteri yang menempel di sela-sela gigi). “Bagaimanapun zat-zat yang terkandung dalam pasta gigi atau obat kumur (mouthwash) dapat mencegah bekerjanya enzim-enzim pembantu tahap awal pencernaan yang dilepaskan di dalam rongga mulut”, tambahnya.
          Selain itu, kita juga harus memperhatikan waktu berkumur. Berkumur yang benar yaitu setelah rongga mulut cukup bersih. Namun terlalu sering berkumur juga tidak baik, karena Mouthwash itu hanya untuk kesegaran dan mencegah bakteri, sehingga dalam sehari cukup dua kali saja untuk berkumur. Sedangkan, bagi anak-anak menyikat gigi menggunakan pasta gigi dan obat kumur baiknya diajarkan setelah anak cukup dewasa, yaitu umumnya di atas umur enam tahun atau yang penting anak-anak sudah bisa berkumur dan meludah, agar jangan ditelan” tandas dokter gigi yang merupakan Ketua Divisi Pendidikan dan Litbang PB Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) tersebut.
          Namun, Lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Demikian lah pepatah yang kita tahu. Maka kita melihat lain negeri lain pula adat istiadatnya. Kalau di Indonesia selalu mandi pagi dan gosok gigi baru makan pagi. Tapi di Korea tidak demikian, orang Korea begitu bangun langsung makan pagi dan kadang-kadang bangun masih ditempat tidur makan pagi telah disediakan (Breakfast in Bed.), lalu cuci muka dan sikat gigi, kemudian barulah beraktivitas. Bagi orang Korea, sikat gigi itu penting dari pada mandi. Sikat dan pasta gigi selalu ada di meja, loker maupun tas mereka. Jadi tidak heran kalau dalam sehari mereka menggosok gigi lebih dari tiga kali. Setiap selesai makan pagi, siang ataupun malam, toilet umum pastai ramai dengan mereka yang sedang antre untuk sikat gigi. Meskipun orang Korea sering menggosok gigi, namun mereka tidak akan keracunan,. Hal ini dikarenakan pasta gigi yang dijual di Korea tidak mengandung Fluoride. Jadi saat sikat gigi, busa yang dikeluarkan sedikit.       
Secara umum, menggosok gigi dilakukan untuk menghilangkan semua jenis kuman dan bakteri yang berada di bagian gigi. Semua jenis sisa makanan yang berkumpul pada lapisan atau celah gigi bisa menyebabkan penyakit gigi dan mulut. Menggosok gigi juga diperlukan untuk mencegah gigi berlubang. Masalah lubang gigi menjadi penyebab sakit gigi yang berbahaya untuk tubuh. Lubang gigi bisa disebabkan karena infeksi kuman atau bakteri dari sisa makanan. Menggosok gigi membuat gigi menjadi lebih bersih, menghilangkan bau mulut dan meningkatkan kepercayaan diri.
          Namun, tidak banyak yang tahu bahwa sikat gigi ternyata bisa menyimpan potensi bahaya yang sangat besar untuk kesehatan. Pada umumnya, hal ini disebabkan karena kesalahan individual yang terkadang tidak pernah disadari. Ada berbagai jenis bakteri yang bisa bersarang dan hidup pada sikat gigi. Semua jenis virus dan bakteri ini tidak akan pernah kita lihat karena memiliki ukuran yang sangat kecil dan tidak terlihat oleh mata. Sikat gigi bisa menjadi lingkungan yang sangat subur untuk mutan streptococcus. Ini adalah jenis bakteri yang bisa merusak lapisan gigi dan menyebabkan karies pada gigi. Sikat gigi bisa menjadi lingkungan pertumbuhan bakteri stapilococus, yaitu bakteri yang berasal dari air dan tanah juga kotoran yang bersarang pada sikat gigi. Sikat gigi bisa menjadi salah satu penyebab penyebaran penyakit hepatitis A, hepatitis B maupun C. Penyakit ini disebabkan karena virus yang berasal dari lingkungan.
          Meskipun sikat gigi mengandung berbagai macam potensi bahaya, namun itu tidak menghalangi kita untuk menggosok gigi. Menggosok gigi harus terus dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi. Pada dasarnya kita bisa melakukan berbagai macam upaya untuk mencegah berbagai bahaya yang muncul pada sikat gigi seperti selalu menggunakan sikat gigi kita sendiri, jangan pernah berbagi sikat gigi dengan orang lain, selalu ganti sikat gigi paling tidak selama tiga bulan sekali dan melakukan pemeriksaan gigi selama paling tidak enam bulan sekali untuk mengetahui kesehatan gigi.

Sumber:
Ramadhani, Rahmi Suci. 2015. Kebiasaan sikat gigi setelah bangun tidur salah kaprah. http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150130135226-255-28531/kebiasaan-sikat-gigi-setelah-bangun-tidur-salah-kaprah.html. Diakses 27 Mei 2015 (19.00)
Sulistiyawan, Wahyu. 2015. Usai sarapan dan sebelum tidur waktu tepat untuk gosok gigi. http://m.tribunnews.com/kesehatan/2015/01/29/usai-sarapan-dan-sebelum-tidur-malam-waktu-tepat-untuk-gosok-gigi.html. Diakses 27 Mei 2015 (19.30)
Anonim. 2014. Sehbis makan jangan langsung gosok gigi. http://www.seputargigi.com/site/index.php?option=com_content&view=article&id=79:sehabis-makan-jangan-langsung-gosok-gigi&catid=34:artikel. Diakses 30 Mei 2015 (10.00)
Nifki, Riski. 2014. Inilah kebiasaan unik masyarakat korea selatan. http://sosbud.kompasiana.com/2014/08/24/inilah-kebiasaan-unik-masyarakat-korea-selatan-682351.html. Diakses 30 Mei 2015 (11.00)
Kurnia, Devi. 2014. Langsung sikat gigi setelah makan bahaya bagi kesehatan mulut. http://wanita-tips.com/wanita-tips-langsung-sikat-gigi-setelah-makan-bahaya-bagi-kesehatan-mulut-ini-sebabnya.html. Diakses 29 Mei 2015 (21.00)
Saputra, Helmi Ade. 2014. Sikat gigi setelah bangun tidur bisa keracunan.http://lifestyle.okezone.com/read/2014/10/02/486/1047432/sikat-gigi-setelah-bangun-tidur-bisa-keracunan.html. Diakses 30 Mei 2015 (11.00)


.


Jumat, 22 Mei 2015

Kloning sebagai salah satu contoh perkembangan filsafat ilmu pada zaman modern dan manfaat belajar filsafat ilmu


KLONING
Salah satu contoh berkembangnya filsafat ilmu pada zaman modern yang sangat terkenal adalah rekayasa genetika berupa kloning, yaitu penggandaan makhluk hidup menjadi lebih banya, baik dengan memindahkan inti sel tubuh ke dalam indung telur pada tahap sebelum terjadi pemisahaan sel-sel bagian tubuh.
Kloning tidak sama dengan, dan tidak sedikitpun berarti penciptaan, melainkan hanya sekedar penggandaan. Secara umum, kloning terhadap tumbuhan dan hewan memiliki tujuan yang baik dan tidak merugikan, yaitu untuk menyelamatkan satu spesies dari kepunahan, untuk memperbaiki rantai makanan dan sebagainnya. Jadi misalnya ilmuan mulai mengkloning Harimau Sumatera jantan dan betina sebelum mereka punah, sehingga Harimau Sumatera terhindar dari kepunahan. Namun jika kloning tersebut dilakukan pada manusia akan menimbulkan dampak positif dan juga negatifnya.
Dampak positifnya adalah rekayasa genetik lebih efisien dan manusia tidak perlu khawatir akan kekurangan organ tubuh pengganti (jika memerlukan) yang biasa diperoleh melalui donor, dengan kloning ia tidak akan lagi merasa kekurangan ginjal, hati, jantung, darah dan sebagainnya, karena ia bisa mendapatkannya dari manusia hasil teknologi kloning. Sedangkan dampak negatifnya:
1.    Menghilangkan nasab (garis keturunan) anak hasil kloning, bagaimana hubungan orang yang mengkloning dan hasil kloningan tersebut apakah di hukumi sebagai duplikatnya, bapaknya ataupun kembarannya.
2. Tidak ada lagi rasa saling mencintai dan memerlukan antara laki-laki dan perempuan.
Bila di lihat dari sudut pandang norma, disini saya melihat dari sudut pandang norma agama karena mayoritas warga Indonesia beragama muslim, menurut saya kloning terhadap tumbuhan atau hewan hukumnya boleh (mubah) sepanjang dilakukan demi kebaikan dan/untuk menghindari hal-hal negatif. Namun kloning terhadap manusia hukumnya haram karena telah menyalahi kodrat manusia karena dengan kloning secara tidak langsung menciptakan duplikat dari satu orang. Dan dengan ini akan dapat merusak kehidupan manusia dan tatanan sosial dalam masyarakat. Contohnya rumah tangga yang dibangun melalui perkawinan akan menjadi hancur, dan pada akhirnya akan terjadi kehancuran moral (akhlak), budaya, hukum, dan syari’ah Islam .
Bila dilihat dari sudut pandang moral, menurut saya kloning akan menimbulkan moral yang tidak baik, karena pastinya manusia hanya akan mengkloning orang-orang yang jenius, ganteng, cantik,dll (yang sempurna secara fisik dan psikis). Apabila hal tersebut terjadi maka akan terjadi homogenisasi (banyak orang terlihat sama (identik) termasuk sifat, kelebihan, kekurangan, dll). Padahal, setiap manusia seharusnya mempunyai pikiran, akal budi, kepribadian, fisik dan mental yang unik dan berbeda. Selain itu, kejahatan yang dilakukan akan semakin canggih karena semua penjahat mempunyai otak jenius.
Bila dilihat dari sudut pandang etika, kloning menurut saya merupakan tindakan yang tidak etis apabila dilakukan pada manusia karena melihat dari tujuan kloning yaitu penciptaan manusia baru, tentu hal ini melampaui kekuasaan Tuhan. Namun, apabila kloning digunakan untuk tujuan kesehatan atau tujuan klinik maka bisa dikatakan kloning etis untuk dilakukan.


MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU
Sebagai seorang mahasiswa PAP UNESA wajib mengikuti kuliah Filsafat Ilmu karena seperti yang kita ketahui bahwa filsafat merupakan suatu usaha untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainnya, sehingga dengan belajar filsafat ilmu kita akan terlatih berfikir serius mengenai hakikat kebenaran sesuatu baik dalam logika (kebenaran berfikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian). Selain itu dengan belajar filsafat ilmu kita akan terbiasa dalam melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari dan mengkritik pemikiran-pemikiran yang salah, dangkal, menyesatkan, menipu, tidak jujur, dan yang ditunggangi kepentingan. Gunanya nanti untuk mahasiswa pendidikan administrasi perkantoran agar dapat bersikap kritis dalam pemanfaatan teknologi perkantoran dan tidak salah dalam membuat atau menciptakan dan menggunakan teknologi perkantoran itu sendiri. Sehingga dapat berguna bagi diri sendiri dan orang lain.





Selasa, 28 April 2015

Makalah Diagnosis Kesulitan Belajar

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab atas perkembangan peserta didik. Karena itu guru dalam proses pembelajaran harus memperhatikan kemampuan peserta didik secara individual, agar dapat membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Guru harus mampu mengenali peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Guru harus bersikap terbuka dan mengasah keterampilan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa. Karena kesulitan belajar dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar.  

B.  Rumusan Masalah
1.   Apa pengertian Diagnosis?
2.   Apa Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar?
3.   Bagaimana Mengidentifikasi Kasus Kesulitan Belajar?
4.   Bagaimana Prosedur dan Teknis Diagnosis Kesulitan Belajar?
5.   Bagaimana Pembuatan Rekomendasi Pemecahan Kasus?

C.  Tujuan Penulisaan
1.   Menjelaskan Pengertian Diagnosis
2.   Menjelaskan Pengertian Diagnosis Kesuulitan Belajar
3.   Mengidentifikasi Kasus Kesulitan Belajar
4.   Menjelaskan Prosedur dan Teknik Diagnosis Kesulitan Belajar
5.   Menjelaskan Pembuatan Rekomendasi Pemecahan Kasus


BAB II
PEMBAHASAN

     Pengertian Diagnosis
Diagnosis merupakan istilah teknis dibidang medis, menurut Thorndike dan Hagen (1955:530-532), diagnosis dapat diartikan sebagai berikut :
1)   Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama menegenai gejala-gejalanya
2)   Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristikatau kesalahan-kesalahandan sebagainya yang esensial
3)   Keputusan yang dicapai setelah dilakukan studi secara seksama atau gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.
Melihat dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diagnosis bukan hanya sekedar mengidentifikasi, tetapi juga memutuskan prediksi kemungkinan-kemungkinan untuk menyarankan cara pemecahannya.
2.   Pengertian Diagnosisi Kesulitan Belajar
Menurut Sunarta (1985:7) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah “kesulitan yang dialami siswa dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya. Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994:4-5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidakdisadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologi, sosiologis ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.
Dari penjelasan diatas, dapat penulis simpulkan bahwa kesulitan belajar merupakan suatu kondisi dimana terdapat suatu jarak antara prestasi akadeik yang diharapkan dengan yang diperoleh yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu baik bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis dalam proses belajar.
Kemudian dari pengertian mengenai diagnosis dan kesulitan belajar diatas, dapat penulis buat kesimpulan bahwa “Diagnosis Kesulitan Belajar” merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar dengan mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan tertentu, serta memprediksi kemungkinan-kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.

   Mengidentifikasi Kasus Kesulitan Belajar
Langkah-langkah operasional dalam diagnosis kesulitan belajar :
1.   Dengan metode criterion referenced, maksudnya tes yang mengasumsikan bahwa instrument evaluasi atau soal yang digunakan telah dikembangkan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Tahapannya adalah sebagai berikut :
a.   Menetapkan angka nilai kualitatig minimal yang dapat diterima, misalnya 5,0 atau 6,0
b.   Membandingkan prestasi dari setiap siswa dengan angka nilai batas lulus tersebut, secara teoritis, mereka yang angka nilai prestasinya berada di bawah lulus sudah dapat diduga sebagai siswa yang mengalami kesulitan belajar
c.   Menghimpun siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar serta mencari siswa yang mengalami gejala-gejala terparah (yang nilainnya jauh dibawah siswa penderita kesulitan belajar lainnya)
d.   Membuat rangking/tingkatan guna mempermudah dalam pemberian prioritas pelayanan psikologis
2.   Dengan metode norm-references, maksudnya nilai prestasi rata-rata dijadikan ukuran pembanding bagi setiap nilai prestasi individu masing-masing siswa. Tahapannya adalah sebagai berikut :
a.   Mencari dan menghitung niali rata-rata kelas atau kelompok
b.   Menandai siswa-siswa yang nilainnya dibawah rata-rata
c.   Jika mau diadakan prioritas layanan bimbingan, terlebih dahulu harus membuat rangking seperti pada metode pertama

    Prosedur dan Teknis Diagnosis Kesulitan Belajar
Menurut Burton (1952:640-652) penggolongan tahapan-tahapan diagnosis tidak didasarkan pada usaha penanganan, tetapi didasarkan pada teknik dan instrumen (sarana) yang digunakan dalam pelaksanaannya, seperti dibawah ini :
1.   General Diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2.   Analistic Diagnosis
Pada tahap ini yang lazim digunakan ialah tes diagnostic. Sasarannya, untuk mengetahui dimana kelemahan tersebut. Tes yang biasa dilakukan ada dua:
1)   Tes Hasil Belajar
Tes yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui penguasaan bahan pelajaran yang telah disajikan dalam proses pembelajaran dalam bentuk ulangan, ujian, atau dalam bentuk evaluasi yang lain.
2)   Tes psikologis
Teknik pengumpulan data yang bersifat potensial yaitu data tentang kemampuan yang belum nampak yang dimiliki seseorang, misalnya bakat, inteligensi, minat, kepribadian, sikap, dan sebagainya.
3.   Psychological Diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrumen (sarana) yang digunakan antara lain:
a.   Observasi
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan alat indra terhadap kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung, baik secara langsung maupun tidak langsung.
b.   Analisis Proses dan Respon
Dalam hal ini bisa dilakukan dengan pemberian angket atau kuisener yaitu alat pengumpul data yang berisi daftar pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang diselediki atau disebut responden.
c.   Wawancara
Wawancara atau interview merupakan cara untuk memperoleh data atau keterangan dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data.
d.   Pemeriksaan fisik dan kesehatan
Pemeriksaan fisik berkaitan dengan pengumpulan data yang berkaitan dengan kondisi dan perkembangan fisik, misalnya kecacatan yang dimiliki, bentuk tubuh dan wajah yang kurang menarik, Sedang pemeriksaan kesehatan berkaitan dengan masalah penyakit yang diderita seseorang. Dalam hal ini peran dokter sangat dibutuhkan dalam memberikan informasi tentang kesehatan seseorang.
e.   Studi kasus
Studi kasus disini berguna untuk mengetahui bagaimana hubungan sosial seseorang dilingkungan. Hubungan sosial seseorang dengan orang lain dapat dilihat dari berbagai segi. Bimo Walgito (1980:72) mengemukakan sebagai berikut:
1.   Frekuensi hubungan, yaitu sering tidaknya anak atau orang itu bergaul
2.   Intensitas bergaul, yaitu segi mendalam tidaknya anak atau orang didalam pergaulannya, yaitu intim tidaknya mereka bergaul
3.   Popularitas hubungan, yaitu banyak sedikitnya teman bergaul, dapat digunakan sebagai kriteria pula untuk melihat baik buruknya dalam hubungan sosialnya.
Guru dalam proses pembelajaran menghadapi peserta didik yang beranekaragam karakteristknya. Perbedaan peserta didik berkaitan dengan kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, sikap, kemampuan, minat, bakat, latar belakang kehidupan keluarganya dan lain-lain. Perbedaan ini cenderung berakibat adanya perbedaan dalam belajar bagi setiap peserta didik baik dalam kecepatan belajarnya maupun keberhasilan belajar yang dicapainya. Langkah-langkah atau prosedur melaksanakan diagnosis kesulitan belajar yaitu:
1)   Mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Dengan cara mengenali latar belakang baik psikologis maupun non psikologis. Kasus kesulitan belajar dapat diketahui melalui :
a.   Analisis perilaku peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diketahui melalui observasi atau laporan proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran dapat diketahui
1)   Cepat lambatnya menyelesaikan tugas
2)   Kehadiran dan ketekunan dalam proses pembelajaran
3)   Peran serta dalam mengerjakan tugas kelompok
4)   Kemampuan kerjasama dan penyesuaian sosial
b.   Analisis prestasi belajar dapat dilakukan dengan cara menghimpun dan menganalisis hasil belajar serta menafsirkannya. Dalam menafsirkan hasil belajar peserta didik harus menggunakan norma yaitu Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP).
2)   Melokasikan letak kesulitan belajar
Dapat dilakukan dengan cara mengetahui dalam mata pelajaran atau bidang studi apa kesulitan itu terjadi, kemudian aspek atau bagaiman kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik. Untuk menemukan bidang studi apa peserta didik mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan cara membandingkan skor prestasi yang diperoleh peserta didik dengan nilai rata-rata dan masing-masing bidang studi.
Sedangkan untuk mengetahui aspek atau bagaimana kesulitan belajar itu dirasakna oleh peserta didik dapat dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan tes.
3)   Menentukan factor penyebab kesulitan belajar
Dapat dilakukan dengan cara meneliti factor-faktor yang ada pada diri peserta didik (internal) dan factor-faktor yang berada diluar peserta didik (eksternal) yang memnghambat proses belajar atau pembelajaran.
4)   Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya
Langkah ini merupakan langkah untuk menentukan bantuan atau usaha penyembuhan yang diperlukan peserta didik. Seperti memberi konseling kepada siswa yang bersangkutan tentang hal-hal yang menghambat kemajuan belajarnya, melakukan bimbingan kelompok terhadap siswa yang dihambat oleh sikap sosialnya yang kurang dapat menyesuaikan diri dalam pergaulan dan lain-lain.
5)   Tindak lanjut
Ini merupakan langkah terakhir yang berupa kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a.   Memberikan pertolongan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, sebagai penerapan program bantuan yang telah ditetapkan pada langkah sebelumnya
b.   Melibatkan berbagai pihak yang dipandang dapat memberikan pertolongan kepada peserta didik
c.   Mengikuti perkembangan peserta didik dan mengadakan evaluasi terhadap bantuan yang telah diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki kesalahan atau ketidaktepatan bantuan yang diberikan
d.   Melakukan referral yaitu mengirimkan peserta didik kepada ahli yang berkompeten dalam menangani kesulitan yang dialami peserta didik.

  Pembuatan Rekomendasi Pemecahan Masalah
Setelah diidentifikasi factor penyebab letak kesulitan belajar siswa, maka dapat ditentukan rekomendasi pemecahan masalah yang akan diberikan kepada siswa, yaitu dengan melakukan pengajuran perbaikan satu kali atau dua kali dalam seminggu untuk materi pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa yaitu berupa :
1.   Mengajarkan kembali materi yang belum dimengerti atau dikuasai oleh siswa
2.   Memberikan latihan kepada siswa mengenai materi yang telah diajarkan
Selanjutnya memberikan informasi kepada:
1)   Siswa : tentang bagaimana cara belajar yang baik, tentang bagaimana pentingnya mengulang pelajaran dirumah, bagaimana pentingnya membaca buku karena semua jawaban atas tugas dan PR yang diberikan oleh guru ada didalam buku, tentang pentingnya keseriusan belajar didalam kelas, serta yang paling penting adalah rajin beribadah kepada Allah SWT, karena kunci keberhasilan itu adalah berusaha, berdoa, dan tawakal. Selain itu seorang guru harus memberikan motivasi /penguatan kepada siswa tentang kemampuan yang dimilikinya sudah bagus, hanya saja perlu latihan dan belajar dengan teratur, sehingga anak menjadi bersemangat dalam belajar.
2)   Orang Tua : Menginformasikan mengenai pentingnya meningkatkan perhatian terhadap belajar anak dan memberikan informasi bahwa orang tua sangat berperan penting bagi perkembangan anak dalam belajar, karena pendidikan yang pertama dan yang paling utama bagi anak adalh lingkungan keluarga. Selain itu juga memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai cara menyikapi anak dalam upaya meningkatkan hasil belajar yang dialami oleh siswa
3)   Guru : Memberikan layanan bimbingan kepada siswa yang mengalami  kesulitan belajar  seperti tidak mampu menyerap bahan pembelajaran dengan baik, tidak dapat konsenterasi dalam belajar, tidak mampu mengerjakan tes dan sebaginnya. Layanan tersebut lebih dikenal dengan pengajaran remedial. Sedangkan layanan bimbingan belajar bagi peserta didik yang tidak mengalami kesulitan belajar lebih dikenal dengan pengayaan atau enrichement. Disini akan kami jelaskan mengenai Pengajaran Remidial dalam Pembelajaran dan program pengayaan dalam pembelajaran
1.   Pengajaran Remidial dalam Pembelajaran
Remidial merupakan bentuk pengajaran yang bersifat kuratif (penyembuhan) atau korektif (perbaikan).  Menurut Warkitri dkk (1990) pengajaran remedial sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena :
a.   Tidak semua peserta didik dapat mencapai hasil belajar sesuai kemampuannya
b.   Adanya kesulitan belajar berarti belum dapat tercapai perubahanan tingkah laku siswa secara buat sebagai hasil belajar.
c.   Untuk mengatasi kesulitan belajar tersebut diperlukan suatu teknik bimbingan belajar
Salah satu teknik bimbingan belajar adalah pengajaran remedial. Dengan demikian dalam pengajaran remedial, guru harus mampu mencipkatakn situasi yang memungkinkan peserta didik lebih mampu mengembangkan diri. Secara umum, pengajaran remedial bertujuan membantu siswamencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan oleh kurikulum.
2.   Program Pengayaan dalam Pembelajaran
Program pengayaan dalam pembelajaran merupakan kegiatan yang diperuntukan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi yang berarti mereka adalah peserta didik yang tergolong cepat dalam menyelesaikan tugasbelajarnya. Kegiatan untuk mengisi kelebihan waktu bagi peserta didik yang cepat menyelesaikan tugas belajarnya ini disebut Program Pengayaan. Tujuan program pengayaan dalam proses pembelajaran yaitu:
1.   Peserta didik menjadi lebih menguasai bahan pelajaran dengan cara peserta didik disuruh membuat ringkasan tentang materi mata pelajaran yang telah disampaikan oleh guru, menjadi tutor sebaya yaitu mengajari temannya yang belum selesai tugasnya.
2.   Memupuk rasa sosial karena peserta didik ini diminta membantu temannya yang belum selesai tugas belajarnya.
3.   Menambah wawasan peserta didik yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan guru dengan cara membaca surat kabar atau diperpustakaan dan sumber-sumber lain yang relevan dengan pelajaran yang sedang diikuti
4.   Memupuk rasa tanggung tanggungjawab peserta didik dengan cara melaporkan atau menyampaikan informasiyang diperoleh melalui membaca surat kabar atau buku-buku di perpustakaan atau sumber-sumber informasi lainnya kepada teman-temannya.
Namun jika masalah yang terjadi akibat factor organismik siswa yang bersangkutan, atau bisa disebut kasus individu seperti sukar mengubah diri dengan pola-pola kebiasaan belajar yang lebih sesuai, sikap menyepelekan sistem penilaian partisipasi dan belum menguasai pengetahuan dasar, maka untuk mengatasi kasus individu ini, sebelumnya harus kita bedakan dahulu, mana yang lebih mudah diatasi dan mana yang lebih sulit. Jika factor yang berpengaruh adalah factor hereditas/gen maka usaha penyembuhan secara metodologis sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan hasil.Yang diperlukan untuk siswa semacam ini adalah penyaluran/penjurusan kepada program pendidikan tertentu yang sesuai dengan kemampuannya.
Jika kelemahan itu bersumber dari aspek organismic lain seperti kebiasaan belajar, minat dan lingkunagn, maka penyembuhan dapat secara metodologi dapat diterapkan meskipun hasilnya baru dapat dilihat dalam waktu yang relative lama. Metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi juga dapat membantu kesulitan belajar siswa, Untuk praktek mata pelajaran produktif sebaiknya dipantau oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan agar siswa benar-benar mengikuti praktek tersebut. Untuk solusi bagi yang mengalami kesulitan belajar karena tidak menyukai gurunya karena cara mengajar gurunya tidak begitu menyenangkan maka guru yang bersangkutan harus mampu merubah cara mengajarnya untuk meningkatkan kompetensi siswa yang diajar olehnya.



BAB II
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1.   Diagnosis merupakan istilah teknis dibidang medis, konsep diagnosis bukan hanya sekedar mengidentifikasi, tetapi juga memutuskan prediksi kemungkinan-kemungkinan untuk menyarankan cara pemecahannya.
2.   Diagnosis Kesulitan Belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar dengan mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan tertentu, serta memprediksi kemungkinan-kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
3.    Mengidentifikasi kasus kesulitan belajar dapat dilakukan dengan langkah-langkah operasional yaitu dengan metode criterion referenced, maksudnya tes yang mengasumsikan bahwa instrument evaluasi atau soal yang digunakan telah dikembangkan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Dan dengan metode norm-references, maksudnya nilai prestasi rata-rata dijadikan ukuran pembanding bagi setiap nilai prestasi individu masing-masing siswa.
4.   Prosedur dan teknik diagnosis kesulitan belajar dapat dilakukan dengan teknik General Diagnosis, Analistic Diagnosis, Psychological Diagnosis. Kemudian untuk prosedurnya dapat dilaksanakan dengan berbagai langkah yaitu mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar, melokasikan letak kesulitan belajar, menentukan factor penyebab kesulitan belajar, menetapkan kemungkinan cara mengatasinya dan melakukan tindak lanjut untuk masalah tersebut.
5.   Untuk pemberian rekomendasi pemecahan masalah dapat dilakukan dengan pengajuan perbaikan satu kali atau dua kali dalam seminggu untuk materi pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa, yaitu berupa : (1) mengajarkan kembali materi yang belum dimengerti atau dikuasai oleh siswa (2) memberikan latihan kepada siswa mengenai materi yang telah diajarkan.Kemudian dapat juga dengan guru memberikan layanan bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar atau biasa disebut Pengajaran remidial , Sedangkan layanan bimbingan belajar bagi peserta didik yang tidak mengalami kesulitan belajar biasa dikenal denagn pengayaan atau enrichement. Namun jika masalah yang terjadi akibat factor organismic siswa yang bersangkutan atau bisa disebut kasus individu seperti sukar mengubah diri dengan pola-pola kebiasaan belajar yang lebih sesuai, sikap menyepelekan sistem penilaian partisipasi dan belum menguasai pengetahuan dasar, maka untuk mengatasi kasus ini sebelumnya harus kita bedakan dahulu, mana yang lebih mudah diatasi dan mana yang lebih sulit.Jika factor yang berpengaruh adalah factor hereditas/gen maka usaha penyembuhan secara metodologis sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan hasil.Yang diperlukan untuk siswa semacam ini adalah penyaluran/penjurusan kepada program pendidikan tertentu yang sesuai dengan kemampuannya. Aspek organismic lain seperti kebiasaan belajar, minat dan lingkungan, maka penyembuhan secara metodologi dapat diterapkan meskipun hasilnya baru dapat dilihat dalam waktu yang relatif lama.



DAFTAR PUSTAKA

Deslav, Vauziz. 2013. Tugas Kuliah Laporan Diagnosis
       http://fauzizdeslav.blogspot.com/2013/12/tugas-kuliah-laporan-diagnosis.
       html.  Diakses 6 Maret 2015 (17.00)
Sugihartono,dkk. (2007). Psikologi Pedidikan. Yogyakarta: UNY
         Press
Sidiq, Nurfajar. 2010. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar.
http://nurfajarsidiq.wordpress.com/tag/pengertian-diagnosis-kesulitan-belajar.html. Diakses 5 Maret 2015 (15.00)